Archive for the ‘Curhat’ Category

komPETENsi

kompetensi itu nama yang canteek…tapi trus jangan buwat nama bayi anda… 🙂

kini lagi marak diterapken disetiap propesi, baek itu suwasta ato negeri. Untuk pegawai negeri terutama guru ( setahu guwa…lo pade jangan nyalahin yee…setahu gw ) memang sangat berarti saat sang asesi dinyataken berkompeten dibidangnya. Karena secaranya penghargaan atas usaha lulusnya juga mendapatken tambahan penghasilan yg lumayan. Itu pegawai negeri… Nah sekarang tentang uji komPetensi terhadap militan suwasta. Kek gw contohnya…!! Bahagia iya ketika dinyataken berkompeten dibidangnya 🙂   . Puas dan lega iya ketika selesai ujian yang super melelahken dengan menghadapi tumpukan berkas dan berhadapan dengan sang asesor 🙂  . Trus untuk segi penghargaan terhadap usaha kita yang menjurus ke finansial ( kek guru misalnya ) nantee duluu.. Bukannya saya iri seeh ( pengin iya !! ) tapi ternyata yang punya pemikiran kek gw ada…banyak malah. Maklum di propesi kek gw yang telat kaya itu bejibun. Bukannya gw gejugde propesi gw itu propesi kaum telat kaya bukan !! Tapi setidaknya banyak yang berharap propesi kek kami ini dihargai secara finansial di daerahnya…. Ngomongin duwit mah kagak ade abisnye… sudah ahh. Yang penting kami dinyataken berkompeten itu sudah cukup dihargai setidaknya oleh negara melalui para asesor yang rata-rata memang orang pinter. Dan itu tidak main-main sistem penilaiannya 🙂 . Lhahh iyalah untuk persyaratan ajaahh kurang satu berkas kami harus wira-wiri, bolak-balik. Belum lagi antree di uji… Belum lagi kalo berhadapan dengan sang asesor ( benernya bukan kiler kiler amat seeh ). hahahahaaaa 🙂   🙂   🙂

ngomong-omong tentang asesor mang macem-macem…betul mereka bukan KILLER , tapi secaranya psikologis kami yg sdh capek saat mempersiapken persyaratan, kemudian mengisi berkas-berkas yg seabrek, uji tulis..duuhhh biiyyuunngg. Itu scr sikologis sdh mbuat kami down… kemudian menunggu diuji yang rata-rata kisaran 30 – 45 menit. Dan yg dihadepin tuh senior…mmmaakkk…. mangkanya ketika selesai diuji bahagianya bukan main. Yak bahagia versi kami sang pemandu wisata itu itu simple. Sudah lupa saat bintek menanyaken apakah kami juga akan dihargai secara finansial… hahahahahaha

sekali lagi #BahagiaItu Simple !!

selamat juga buwat rekan – rekan sejawad , khususnya HPI DPD JAWA TENGAH yang sudah dinyataken berkompeten di bidangnya ( pemandu untuk CITY TOUR dan OVERLAND ) yang diadaken 27 – 28 Juli 2013 . Anda layak dapet bintang…!!

Advertisements

kitab rataPAN

Pagi ini, Ia menyapamu lagi; “Apapun yang kamu mintah kepadaNYA dalam nama-Ku, akan diberikan kepadamu.” Kita bisa menjawabnya; “Tuhan, kami telah memintah tapi kenapa kami belum dan bahkan tidak mendapatkannya? Lalu, apa artinya janji-Mu?

Izinkalah aku untuk menjawabmu lewat tulisan ini, dan percayalah bahwa Ia sendiri akan memberikan jawaban yang memuaskan dalam batinmu. Kalau kita memperhatikan, banyak orang cenderung memperhatikan apa yang dimintah atau apa yang diberikan kepadanya, daripada sang pemberi itu sendiri. Kalau kita memintah, maka berilah kesempatan sang pemberi untuk memberikan sesuai dengan kebaikan hatinya. Kita terlalu focus pada apa yang kita mintahkan dan bukan pada kesabaran kita untuk menantikan pertolongan Tuhan. Tuhan sendiri pernah menegaskan; “Kalau kamu yang jahat tahu memberi yang baik ketika anakmu memintah sesuatu kepadamu, apalagi IA di Surga?

Karena itu, kiranya dua hal ini yang harus kita kembangkan dalam hidup rohani kita ketika kita memintah sesuatu dalam doa-doa kita, yakni memasrahkan kepada kebaikan Allah untuk menilik semua kebutuhan kita, dan kesabaran untuk menanti pertolongan-Nya. Karena itu, saya senang mengutip kata-kata dari Kitab Ratapan; “…Adalah lebih baik menanti pertolongan Tuhan dengan diam.”

iKLan itu…

           Jrreenngg…sudut dunia mana yang terbebas dari iklan hayoo cobak ? Menarik buat dibahas saat bete, ada yang pro ndak sedikit yang kontra. Wong namanya “IKLAN” , ketika orang sedang berdebat menggunjingnya…ya tetep ditempelin iklan !!! Hehehehe… itulah menariknya iklan. Duluuu sekali jamannya belum marak tipi swasta iklan pernah muncul di tipi pemerintah..trus kalo ndak salah dibatasin apa dihapus gitu. Nah sekarang dengan menjamurnya tipi swasta iklan jadi “mesin penghasil uang” efektip. Ndak salah jugak sii, karena dengan iklan sebuah tipi bisa terbantu (mungkin) dalam beroperasi. Dan perusahaan yang menggunaken jasa media akan terbantu mengenalken produknya ke massa. Yahh semacam simbiosis mutualisma. Demikian juga di rediyo… Baik itu milik pemerintah atawa swasta. Kini sudut dunia sudah di invasi oleh yang namanya iklan. Dalam bentuk apapun. Yaitu iklan yang berupa tayangan di media elektronik, spanduk jugak selebaran. Wuuiihh hebat yaa si iklan ini.

          Seperti sudah disebut diatas bahwa iklan menarik untuk diomongin. Kini kita omongin yang di tipi dulu. Mohon di note : guweh bukan anti iklan lhoo yak !!. Begini, memang betul iklan akan menjadi efektip ketika ditempatken, ditayangken pada tempat dan waktu yang tepat. Tapi yahh tempat dan waktu yang tepat itu sangat berbeda menurut definisi tiap kepala. Itu juga menurut guweh !!. Tepat ketika ditayangken pada jam prime time ( mengutip bahasa di tipi ). Karna menurut mereka yang punyak bahasa prime time, iklan itu akan disaksikan oleh banyak kalayak. Diprediksi orang akan menonton / mendengar pada jam tersebut. Perkara orang berkenan, tertarik atau tidak itu mah belakangan. Nah ini yang kadang mbikin guweh sedikit bete !! Lha iyalah…contoh kasus saat iklan disisipin di saat filem yang lagi seru-serunya. Dah gitu ngeditnya setelah habis iklan (pernah dan banyak) gak nyambung. Duhh…mau marah sama sapa coba..wong ya iuran tipi ajah guweh ndak mbayar..!! Tapi ada jugak iklan sebagai “penyelamat” kalo boleh saya bilang begitu. Jadi begini, ini sering lhoohh. Saat acara dialog atawa debat di tipi, tak jarang antar nara sumber sangat emosi dalam berdialog dan mempertahanken pendapatnya. Nah disini peran sang moderator / yang mewanwancari ( istilah tepatnya apa yak ? ) sangat vital. Mereka akan melerai sang nara sumber dengan alasan iklan. Hehehhe cerdas !! Itu “penempatan” iklan yang tepat !! Tapi sekali lagee tiap orang punya definisi yang berbeda tentang bagaimana yang tepat itu.

          Kini iklan juga merambah di dunia sosmed ( keknya dari dulu yak ? ). Jejaring sosial dengan akun follower banyak adalah kunci dari semuanya. Cobak tengok beranda jejaring kalian..bersihkah dari iklan ? OOhh noo….Nahh ini yang kadang mbuat guweh geleng2 kepala antara heran, takjub dan sedikit jengkel (biasa). Lha iyalah..ini pengalaman guweh lho… Guweh tuh yak suka memfollow akun-akun yang gak begitu serius karna bagi guweh bermain di duma khususnya jejaring sosial tuh cumak sebagai hiburan dikala bete, meski ada juga akun serius yang guweh ikutin karna sebagai penyeimbang informasi.  Ada akun punyak tokoh / orang terkenal yang followernya bejibun dengan gratis dan suka rela menshare dagangan seseorang yang mintak di publikasikan..ada !! Ada pulak akun follower bejibun yang basicnya ringan…eee kok suatu saat terang-terangan menawarkan diri untuk jadi pengiklan. Awalnya guweh penasaran ketika akun tersebut mencantumkan no hp dan di pesilakan menghubungi no tsb kalo pengin di share produknya. Ah iseng guweh tlepon..ternyata eh ternyata yang dibahas adl biaya. Minta berapa kali penayangan, sehari brapa kali dan seterusnya dan seterusnya… WWahhh hebaattt ini akun.. angkat topi dehhh. Tapi kalo boleh ngusul mbok yao identitas yang dulu ya jangan ditinggalin lahh..tetaplah membanyol dengan ciri khasnya. Oke broww 🙂

          Trus iklan berupa selebaran spanduk dan sejenisnya. Semarang dan mungkin kota-kota besar lain kini jadi belantara iklan spanduk. Dan saking kehabisan tempat ( mungkin ! ) rumah ibadat, kantor pemerintahan tak luput dari jajahan tempat menempel dan menggantung selebaran dan spanduk. Cobaklah keluar sebentar kalo ndak percaya…pergilah ke pusat kota atau jalan besar atau mungkin ke rumah ibadat. Duhh…tapi ya ndak apa-apa. Namanya juga usaha menjaring dan sapa tahu ada yang kejaring.. Tapi…tapi..ah sudahlah itu kalian yang berhak menilai. Karna tiap kepala masing-masing isinya 🙂 .  Nah..ada lagi pengiklan dengan model memberikan brosur sebuah produk (makanan) yang selalu diberikan di bangjo ( traffic light ).  Ini di Semarang !! . Dan meskipun kita lewat 100x di bangjo tsb orang tersebut selalu menawarken tepatnya memberikan brosur dari produk sebuah makan. Sampai dimana sii tingkat efektifitasnya… Karna itu tiap hari lhohh.. Dan pernah guweh sekedar membuktiken (dari luar toko ybs) kok ya ndak boom amat yang dateng…Trus..ya trus pikirlah sendiri…

          Ah sudahlah…benernya masik banyak yang ada di otak guweh..tapi otak guweh keburu kesisipan barang iklan. Jelasnya guweh ndak anti iklan…cumak bagi pengiklan #pesenguweh cobaklah beriklan yang simpatik yang tepat waktu dan tempatnya. Bener lho coii…jangan mbikin guweh benci iklan, karena guweh juga butuh diiklanken !!!  🙂 🙂

sekian… dan iklan

BIKER

Guweh gak anti biker…karna guweh juga sukak ke mana-mana pakek motor.. Tapi yang kadang mbikin guweh muak manakala kita lagi jalan-jalan naik kendaraan ( pribadi ataupun umum) tiba-tiba terdengar suara sirene meraung-raung mintak jalan.. Dulu waktu belum marak ada kelompok biker, setiap ada suara sirene guweh slalu minggir kasih jalan. Nah sekarang guweh mesti lihat spion dulu, siapa yang mintak !! Kalo cuma anak kemarin sore dengan group gak jelas, guweh gak akan kasik jalan #bodoamat. Beberapa kali pernah terjadi insiden dan itu memang guweh sengaja. Yaitu saat jalanan rapat cenderung macet terdengar raungan sirene mintak jalan…setelah guweh lihat di spion dan ternyata cumak gerombolan yang gak jelas, guweh cuek ajah. Mereka marah dan guweh turun..lalu dengan arogan aku tanya mereka maksudnya marah knapa…sayangnya tidak ada perlawanan. Hehehehe…coba ada sedikit perlawanan..ramai dah.. Gak sombong siii..tapi kalok cuma kasik upercut (dan kalo tepat sasaran !!  🙂 ) sama orang yg gak bener , guweh masih sanggup duel..hehehehhe.

Fenomena BIKER muncul (menurut guweh) adalah karena kita termasuk bangsa yang suka meniru. Yaitu meniru segala sesuatu yang ada dibelahan bumi sana. Lucunya , meniru tanpa jelas tahu maksud dan tujuannya. Kalok guweh jelas gak ngerti ( jujur nii ) . Meski tahu cuma sedikit, percuma di share disini takut di somasi 🙂 . Mangkanya guweh gak ikut kelompok-kelompok yang gak jelas. Tegas guweh katakan kelompok gak jelas. Bahkan untuk kelompok moge sekalipun, guweh brani katakan. Gimana guweh gak jengkel…itu yang pake moge dengan sombong mainin gas gede buat minta jalan ( kalo pas sendirian ) . Kalo guweh sii brani aja lawan mereka..pernah kejadian guweh tegur dan dia lawan..ada sedikit perlawanan. Meski semua “selesai”, guweh anggap belum selesai. Trus guweh upload di sebuah jejaring sosial dan kebetulan guweh ikut pertemanan …dan lucunya guweh langsung di block. Hehehehehe…apa ini bukan sifat kekanak-kanakan ? Mending-mending di bales keluhan guweh. Itu nggak sama sekali, malah di block…apaaa ini..?

Pernah sii..di sebuah stasiun TV swasta ditayangin wawancara penggede biker dan kebetulan si pembawa acara menanyakan banyak keluhan tentang ulah para biker. Apa jawabnya cobak… “itu hanya ulah oknum”…hahahahahaha..oknum tuh stahu guweh satu !!! kalau banyak apa namanya…hehehehehehee…

biker

 

yaahh …sudahlah…whatever.. lo pade mau meraung-raung…mau gas gede..mau pake sirene… yang jelas jangan ganggu guweh saat guweh nyaman di jalan.  Guweh titip pesen ajah…ni jalan , jalan kite bersama, kalo mau minta jalan pakailah aturan atau situasi yang bener.. Jangan asal meraung-raung gak keruan. Buat biker-biker mocil ( motor kecil ) belajarlah sopan santun..jangan asal srunthul..emak bapak lo tuh kreditin motor bukan buat gagah-gagahan…Trus..POLISI…kemana nih POLISI pada..apa jangan-jangan ikut group biker jugak ? hehehehehehe 🙂

OK brohh salam satu aspal…

Simpang Lima Semarang

Siapa yang tak kenal Simpang Lima Semarang ? Orang luar daerah yang masuk Kota Semarang, jika tak mampir / melewati Simpang Lima rasanya belum masuk Kota Semarang.

Banyak orang yang tidak tahu…bahwa sebenarnya Simpang Lima itu Bukan Nol Kilometer Kota Semarang. Ini pernah saya dengar sendiri beberapa kali dari seorang pemandu wisata dari luar daerah. Tapi memang Simpang Lima ini merupakan salah satu tempat keramaian. Dulunya tiap Sabtu malam dan Minggu pagi tempat ini menjadi semacam “pasar tiban”. Menjual apa saja mulai dari mainan anak, barang elektronic sampai kendaraan bermotor. Ya betul..suasana mirip di Malioboro Jogja. Dan “even” ini selalu ramai.. Tapi sekarang kegiatan “pasar tiban” direlokasi di dekat Stadion Diponegoro…hhmmm ada apa ini…??

Simpang Lima sekarang “lain peruntukannya”. Ya..setelah direnovasi track-nya. Beberapa waktu lalu sempat terjadi pro kontra, karena keberadaan masyarakat yang menggunakan track halus untuk bermain in line skate dan permainan sejenis. Pemkot dengan kekuasaanya melarang masyarakat untuk bermain di Simpang Lima alasannya :

  1. Pemkot takut kalau keramiknya rusak ( dengar2 sih begitu )
  2. Takut kalau-kalau para PKL kembali masuk ke Simpang Lima , karena memang sudah ada beberapa PKL yang masuk yaitu penjual minuman dan persewaan sepatu roda. ( ini kata Pak Walikota Plt saat acara morning tea di RM. Elrina )

Alasan di atas menurut saya terlalu dipaksakan..dan memang betul. Akhirnya ada saja kejadian-kejadian yang pada akhirnya terjadi benturan antara aparat pemerintah ( Satpol PP ) dan masyarakat.

Menurut analisa saya ( gaya Butet )…. Kalau memang keramik takut rusak, mbok yao keramik dibuat lebih bagus kualitasnya. Trus kalau takut PKL masuk,  ini yang lucu (menurut saya lagi). Versi saya adalah ada sesuatu dibalik pelarangan PKL. Karena ternyata bisnis sepatu roda dan permainan sejenisnya sangat bagus…trus di sana ternyata ada klub sepatu roda juga (kalau tidak salah) yang tentunya peserta didiknya harus membayar untuk menjadi member. Naahhh…ini lho maksud saya. Ternyata di Simpang Lima ada banyak “masukan liar” yang mungkin tidak ber kontribusi ke Pemkot ( mungkin lho ). Tapi monggo..itu versi saya

Nah sekarang muncul lagi “kiat mengusir secara halus” pengguna track yaitu dengan cara direnovasi track halusnya dengan diberi motif kasar dengan jarak yang rapat…hehehehehe aya aya wae. Saya tidak habis pikir ini Simpang Lima tuh punya siapa ? Padahal kita lagi gencar promosi Visit Jateng 2013 plus Ayo ke Semarang. Lha Simpang Lima sendiri adalah salah satu yang punya daya tarik dengan segala keramaiannya asal anda tahu. Lha kalau “keramaian dan keceriaan” masyarakat di hapus, trus Simpang Lima mau digunakan untuk apa ? Untuk yang berani menyewa harga mahal saja ? …dan gak salah kan kalau kami sekali lagi bertanya “mengapa sekarang track halus di Simpang Lima diacak acak ? untuk maksud apa ? ”

#jadibahanrenungandirisendiri

 

Ooohh HPI Semarang

          Rabu 21 November 2012, kami Pramuwisata ( Jateng ) yang sudah berlisensi berkumpul di aula Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah lantai 2 pukul 09,00 wib. Adapun maksud dan tujuan kami dikumpulkan adalah untuk sosialisai : PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 39 TAHUN 2012 tentang JUKLAK PERDA PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG PRAMUWISATA DI PROVINSI JAWA TENGAH.

          Sebuah rally panjang untuk pembuatan Perda dan Pergub yang sebetulnya sangat kami nantikan oleh “kaum pramuwisata”. Satu sisi bagi kami yang nota bena sudah berlisensi , peraturan ini ( Perda/Pergub ) sangat menghargai dan melindungi hak kami sebagai Pramuwisata. Tapi disisi lain “musuh” kami adalah teman-teman kami yang belum berlisensi !!!. Mengapa hal ini terjadi ? Kita bicara flashback . Dulu kami berjalan (bukan) tanpa aturan. Yah karena tidak ada / belum ada yang care terhadap kami. Perhatian hanya sebatas retorika belaka. Dan asosiasi yang menaungi , dalam hal ini HPI , pengurusnya cenderung pasif. Jabatan di kepengurusan pakai slogan “kalau sudah duduk lupa berdiri”…saya sendiri heran ada apa sebenarnya di asosiasi ini ? Yang “parahnya” lagi adalah timbul organisasi (bukan tandingan lho) Pramuwisata Lokal. Pengurus dan anggotanya adalah kalau saya boleh bilang masih junior tapi jam terbang mereka lumayan. Ini sempat jadi pembicaraan karena ada pro dan kontra.

          Kemudian sekitar tahun 2011 , ada semacam ujian lisensi yang pada waktu itu diadakan di Solo dan penyelenggaranya adalah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah. Kalau saya boleh bilang inilah embrio dari bersatunya kaum pramuwisata yang dulunya belum tersentuh secara organisatoris dan mendorong untuk terciptanya sebuah peraturan ( itu versi saya !!! ). Karena , pada saat kami dikarantina hampir seminggu di Solo , kami sempat diskusi tentang “keberadaan” kami. Dari obrolan gak jelas , meruncing menjadi sebuah tekad untuk membuat sebuah organisasi resmi yang menaungi kami.

          Seiring berjalanannya waktu , akhirnya kami yang sudah LULUS dan Berlisensi membuat / mengusulkan berdirinnya HPI DPC Semarang. Naahhh bagi teman-teman yang belum berlisensi , entah cemburu atau apatis atau apalah sering mengeluarkan celotehan “apa perlunya berlisensi,apa untungnya masuk asosiasi “. Kami sudah berusaha untuk menjelaskan dengan bahasa kami agar secepatnya mereka mengambil lisensi. Apalagi sekarang sudah ada Perda dan Pergub, yang berlaku efektif 1 Januari 2013 ( semoga ).  Ketahuilah teman-teman…kalau diri kita saja tidak menghargai diri kita sendiri bagaimana orang lain menghargai kita..?? Perda dan Pergub sangat melindungi dan menghargai kita…semoga teman teman segera mengambil jalan yang benar 🙂 🙂